14 July, 2011
Telekomunikasi
18 May, 2011
Jangan tembak...
Malam tanpa bulan. Langit tak berbintang. Anginpun tak berhembus. Saat yang tepat untuk menjalankan rencana.
24 February, 2011
Tulisan Terakhir
04 December, 2010
Terlupakan.....
28 May, 2010
Pulau : Sebuah Kisah
26 May, 2010
Pulau : Sebuah Perjalanan
25 April, 2010
Berburu
31 March, 2010
Lepaskan....
Hari mingu sore yang basah karena gerimis ini...seperti biasa aku cuma bisa melihatnya dari balik jendela..….seperti biasanya…..ah...…tak terasa sudah dua tahun berlalu. Setiap melihatnya aku selalu terkenang masa-masa kita bersama dulu.
“Teddyyyyyyy……”
“Iya Ma..” jawabku kaget sambil berlari ke halaman belakang setelah mendengar Mama teriak. Aku tidak menyangka Mama akan pulang secepat ini.
“Hehehe” cuma itu yang keluar dari mulutku begitu bertemu Mama.
“Itu apa Teddy?” kata Mama sambil menunjuk ke kandang besar bekas kandang Blacky, doberman kesayangan keluargaku yang telah meninggal karena usia.
“Bayi beruang madu Ma”
“Iya Mama tau itu bayi beruang tapi kenapa ada dirumah???”
“Hehehee. Tadi Teddy beli Ma”
“Beli???”
“Iya Ma, tadi Teddy nemenin Igor ke pasar burung Pramuka, ga taunya Teddy liat ada bayi beruang disembunyiin, Teddy tanya aja kenapa ada disini trus kata tukangnya bayi beruangnya dijual. Teddy kasian Ma. Tadi bayi beruangnya ditaruh dikandang ayam dikolong meja. Menderita banget Ma”
“Tapi kan ini beruang, kamu tau ga besarnya kaya apa nanti?”
“Ini beruang madu Ma, tenang aja Ma ga akan jd besar banget kok, ama Blaky juga nantt besaran Blacky kok”
“Pasti harganya mahal kan?”
“Iya sih tapi Teddy kan belinya juga dari uang sendiri. Teddy baru dapat uang dari dosen gara-gara ikut projectnya yg bulan lalu”
“Harusnya uang itu kamu tabung, Teddy”
Aku nyengir saja mendengar Mama ngomong seperti itu. “Biarin ah Ma, lagian kan Ma biar pas ama namanya Teddy, jadi Teddy Bear hehehe”
“Kamu itu ya, katanya anak metal tapi kok sok imut gitu. Terus mau kamu taruh dimana? Di dalam rumah?”
“Ya ga lah Ma, disini halaman belakang aja, kan besar nih, paling2 main2 di sekitar kolam renang aja.”
“Ya sudah lah pokoknya Mama ga mau tau, kamu harus urus itu beruang itu. Dia jadi tanggung jawab kamu, Mama ga mau liat dia sampai ga dikasih makan. makannya juga harus kamu yg urus ya”
“Sip, tenang aja Ma, Berli akan Teddy akan urus semuanya sendiri”
“Berli?”
“Iya Berli” Jawabku sambil memeluk bayi beruang maduku.
Semenjak adanya Berli, akupun jadi jarang nongkrong di kampus lama-lama. Aku lebih suka bermain dengan Berli, memberi susu dan menyuapi makanannya. Kadang bila Mama tidak dirumah, Berli aku bawa ke kamar.
Tanpa terasa setahun sudah Berli bersamaku, badannya yg dulu hampir sebesar boneka beruang sekarang mulai membesar. Sudah mulai berat sehingga aku susah memeluk dan menggendongnya. Tapi dengan semakin besarnya Berli jadi mulai bisa berjalan. Asik aja berjalan mengelilingi kolam renang sambil berpegangan tangan dengan Berli. Terkandang aku suruh Berli berjalan di treadmil biar Berli bugar. Aku sangat bersyukur ternyata berli tumbuh dengan sehat, tidak pernah terkena penyakit yang aneh. Pernah suatu saat Berli terlihat lesu dan hidungnya basah, dengan reflek aku langsung memberikan obat flu ke Berli dan keesokan harinya Berli sudah normal kembali.
Pertumbuhan Berli semakin hari semakin pesat. Walau Berli tetap jinak tapi aku merasa semakin susah untuk bercanda-canda dengannya. Kukunya yang semakin panjang dan tajam sering tanpa sengaja melukaiku. Tenaganya juga semakin kuat. Pernah aku dengan mudahnya didorong sampai kecebur ke kolam renang.
Ditahun kedua Berli semakin susah diatur. Makanan anjing, buah-buahan dan madu yang biasa aku beri semakin sering cepat habis. Sepertinya nafsu makan Berli semakin membesar. kelakuannyapun sekarang semakin sering tidak terkontrol. Entah berapa banyak luka-luka ditanganku akibat cakaran Berli.
Melihat keadaan seperti ini, Mama dan Papa akhirnya turun tangan. Papa menyarankan agar Berli dilepas saja atau diserahkan ke kebun binatang. Karena walau bagaimanapun Berli ada seekor beruang dan beruang tidak seperti anjing dan kucing yang dapat dengan mudah dipeliharan. Dengan berat hati akhirnya aku mulai mencari2 info untuk melepaskan Berli. Akhirnya Berli aku serahkan ke Taman Safari untuk lebih lanjut dipelihara.
Dan sekarang….disaat-saat aku merasa kangen seperti sekarang ini….aku hanya bisa ke Taman Safari dan melihat Berli dari balik kaca mobilku. Entah Berli masih mengenaliku atau tidak tapi setiap kali aku datang Berli hanya menatapku dari jauh tanpa menghampiriku. Aku merasa ikut bahagia melihat Berli tumbuh menjadi beruang madu yang gagah, yang dikelilingi oleh beruang-beruang madu lainnya. Apalagi sekarang aku diberi tau kalau Berli sudah mempunyai pasangan. Ah….Berli beruang maduku yang mungil, semoga kau berbahagia di'habitat'mu.
Lindungi dan sayangi mereka dengan membiarkan mereka hidup bebas di habitatnya…
Base on true story
28 February, 2010
04 December, 2009
Hadiah
Aku terbangun karena mendengar Mamaku menangis disebelahku. Sambil mengucek-ngucek mata, aku bertanya kepada mama, “Mama nangis? Kenapa Ma?”. Mama tetap saja menangis, tidak menjawab pertanyaanku. Aku turun dari tempat tidurku dan mencoba merangkul mama.“Mama…Mama kenapa? Edo salah ya Ma?” Tanyaku kebingungan. Tiba-tiba terdengar dari belakangku Papa membentak Kang Udin, sopirku.
“Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kamu tetap mengawasihnya! Pergi kamu!”
Ada apa ini? Kenapa ini? Aku menghampiri Papa.
“Papa…Kang Uding kenapa Pa?”
Papa hanya diam saja. Menoleh dengan pandangan kosong dan kemudian duduk sambil menunduk. Muka Papa terlihat kencang.
“Pa…” kataku hati-hati.
Papa tetap saja diam. Kalau Papa marah denganku, Papa pasti diam dan tidak mau melihat ke arahku. Apakah Papa marah kepadaku juga?
“Pa….Papa marah sama Edo ya?” tanyaku hati-hati.
Papa hanya menunduk dan memegang kepalanya saja. Aku teringat kejadian tadi sore. Pasti karena itu Papa marah kepadaku.
“Pa…maafin Edo ya, Papa jangan marah ya. Edo seneng banget ama hadiah Papa.” Ujarku sambil memelas. Jurus ampuhku untuk menghilangkan kemarahan Papaku. Hari ini aku berulang tahun yang ke 4. Papa memberikan kado sepeda roda tiga. Pada awalnya aku kesal karena aku minta sepeda yang seperti punya Mas Dika. Berwarna hitam dan beroda dua bukan sepeda hijau beroda tiga. Aku kan ga suka warna hijau, mengingatkan kepada sayur yang rasanya tidak enak. Tapi setelah dibujuk mama, aku mau juga menerima pemberian Papa.
“Pa….Edo ngerti kok Pa kenapa Papa ngasih sepeda roda tiga. Ternyata mengendarai sepeda itu susah, roda tiga aja Edo susah nyetirnya apalagi sepeda roda dua. Tadi aja pas Edo nyobain main sepedanya di jalan di depan rumah Edo ket...…”
Belum habis aku berbicara tiba-tiba nenek masuk. Mukanya seperti habis menangis. Nenek langsung menghampirin Mama yang masih saja menangis disamping tempat tidur. Dan aku melihat diatas tempat tidur itu tubuhku terbaring kaku. Bersimbah darah dan tidak bernafas…..
Happy birthday…..
30 October, 2009
Anak itu...
Kali ini, mata gw tertuju kepada anak kecil, gw perkirakan belum genap berusia 12thn. Salut banget gw ngeliatnya. Jago banget renangnya dan sepenglihatan gw, dia ga keluar2 kolam. Kuat banget nih bocah. Kalau dia lagi tidak berenang, anak ini cuma water trappen (mengambang) saja dipinggiran sambil bermain2 sendiri. Ketika gw br saja mau menyelesaikan renang dan beristirahat dipinggir kolam, gw kaget karena tau2 bocah itu nongol dr dalam air disamping gw. Iseng2 gw tegor aja dia.
“Jago banget berenangnya Dik”
“Hehehe biasa aja Bang” jawabnya sambil asik water trappen dengan santainya.
“Pasti anggota klub renang disini ya”
Dia cuma senyum terus menyelam. Ga lama kemudian dia nongol lagi.
“Abang sendirian?”
“Iya, kamu kok belum pulang? Temen2 klub renang kamu uda pada pulang”
“Belum bang, bentar lagi”
“Dijemput ya?”
”Nanti keluarga pada mau kesini Bang”
“Nama kamu siapa?”
“Mohammad Farid, kalau Abang?”
“Surya”
Kemudian terjadilah percakapan yang hangat antara kami berdua. Farid menceritakan kalau awalnya dia dipaksa oleh bapaknya untuk ikut renang. Alasannya sederhana saja, bapaknya mau agar Farid bisa tumbuh menjadi tinggi tidak seperti bapaknya yag pendek. Sebenernya Farid agak malas dan terpaksa ikut renang tp lama kelamaan-lamaan dia jadi mencintai sehingga dalam 3 bulan ini dia menjadi mahir dalam olah raga ini. Farid bahkan tidak malu-malu dan tanpa ada kesan menggurui, mengajarakan gw tehnik renang yang baik. Dan yup, gw jadi tau gimana cara berenang yang baik sehingga tidak cepat cape walau uda berenang bolak balik. Ngomong dengan anak ini benar2 menyenangkan dan tidak membosankan, tidak seperti ngomong dengan anak kecil lainnya. Anak hebat. Pasti orang tuanya sangat bersyukur punya anak seperti Farid.
Waktupun seperti cepat berlalu. Entah berapa lama gw ngobrol ama anak ini. Yang gw sadar kalau kolampun sekarang sudah sepi. Sudah mau tutup sepertinya.
“Rid, Abang udahan dulu ya”
“Yaaaaa” ada nada kecewa disuaranya.
“Uda sepi nih, mana yg mau jemput kamu?”
“Sebentar lagi mungkin. Ya uda abang duluan aja, saya mau main2 dulu”
Busyet nih bocah, ga ada cape2nya. Gw pun mengambil tas dan menuju ke tempat bilas. Setelah selesai mandi dan ganti pakaian, gw ngecek hp, tau2 ada SMS dari bos gw yg isinya
“Surya, kenapa kamu tidak masuk dan tidak memberi kabar? seharusnya tadi siang setelah sholat Jum’at kan kamu presentasi?”
JUMAT???
Kok Jumat???
Gw keluar dari tempat bilas dan gw lihat beberapa orang sedang berkumpul dipinggir pojokan kolam seperti sedang melakukan pengajian. Dengan penuh keheranan dan kebingungan, gw keluar area kolam renang. Dan di depan pintu kolam renang, tertempel pengumuman
KOLAM RENANG DITUTUP SEMENTARA
Mengenang 100 hari anak kami tercinta Mohammad Farid
Meninggal karena tenggelam
Happy Haloween
26 September, 2009
Job
“Assalamu’alaikum” sapaku ketika sampai dirumah.
Ida langsung menyambutkku dengan hangat.
“Walaikumssalam…ee Mas Yanto, Ibuuu Mas Yanto uda datang Bu..”teriak Ida ketika membukakan pintu untukku.
Ah…rumah kecil ini. Rumah didesa terpencil ini, rumah yang hanya dengan penerangan listrik secukupnya, rumah tanpa hiburan elektronik, rumah yang selalu membuatku ingin pulang.
“Eee…Yanto” sambut Ibuku dari dalam. Ibu langsung memeluku dengan erat. Teringat kembali dahulu ketika aku hendak ke Jakarta, Ibu merelakan menjual sepetak tanah kebun peninggalan almarhum Bapak untuk modalku ke Jakarta. Aku berjanji sebelum aku menjadi ‘orang’ aku tidak akan kembali. Dan kini…akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang, semata-mata karena kerinduanku kepada Ibu.
“Ayo masuk, kamu pasti capek sekali, Ibu kira baru nanti malam kamu sampai rumah”
“Iya Ibu, kebetulan perjalannan lancar, jadinya aku bisa cepat sampainya”
“Ayo..ayo…masuk., kamu taruh dulu tas kamu di kamar, terus kamu mandi dulu biar segar, Da coba kamu lihat di dapur, nasi yang ibu tanak sudah matang atau belum, sambelnya sudah kamu ulek, sebentar lagi mau magrib, sudah lama kita tidak berbuka dengan masmu ini?”
“Bu, jangan repot-repot Bu, aku kan anak Ibu, bukan tamu kehormatan” kataku tersenyum.
Ibu melihatku dengan tatap kangen lalu Ibu memeluk lagi. Aku balas meluk Ibu erat-erat. Tanpa disadari air mata Ibu mulai keluar. Aku menciumin pipi ibu dan berbisik, “Yanto kangen Ibu”. Dan ibu pun tersenyum sambil menggangguk.
“Yanto mandi dulu ya Bu”
Tak berapa lama setelah aku mandi dan berasa segar, terdengar suara bedug magrib. Kami berbuka puasa dengan makanan-makanan buatan Ibu yang sangat aku rindukan. Nasi hangat beraroma pandan, sayur bayam, tempe bacem dan sambel pete yang lezat. Setelah kenyang kamipun duduk diteras rumah sambil berbincang-bincang.
“Bagaimana kerjaan kamu To?”
“Ya alhamdulliah Bu, berkat doa Ibu saya bisa seperti sekarang”
“Emang Mas Yanto kerja diperusahaan apa?”
“Diperusahaan asing, perusahan luar negri”
“Kok bisa Mas?”
“Ya bisa lah, kalau mau berusaha pasti bisa”
“Ooooo, trus emang Mas kerjaanya apa? Nama kerjaannya Mas Yanto apa toh?”
“Mmmm….kalau ditanya nama kerjaannya Da……itu singkatan Da, pake bahasa Inggris” kataku sambil tersenyum.
“Wah hebat tenan Masku iki. Nama kerjaannya saja bukan bahasa Indonesia” Ujar Ida sambil berasa takjup.
“Pasti penting banget ya kerjaannya Mas”
Aku tersenyum saja mendengarnya. “Karyawan-karyawan ditempat Mas kerja, semuanya Mas yang urusin.”
“Kok Mas yang ngurus? Emangnya mereka ga bisa?”
“Bukannya ga bisa tapi ya..memang begitu, mereka itu kalau ada apa-apa pasti nyariin Mas. Ini aja Mas baru bisa ke kampung setelah semuanya karyawan lainnya libur.”
“Trus nanti Mas masuknya juga duluan?”
“Untungnya sekarang Mas punya temen, karyawan baru sih, tapi Mas uda trainingin dia ini itunya”
“Apa itu train…”
“Eh maksudnya, Mas uda ngajarin ini itunya, kalau ada yang butuh apa harus nyari dimana dia uda tau. Tapi semoga dia bisa menjalankan dengan baik. Kasian juga nanti karyawan yang lain kalau sampe dia salah-salah. Moga-moga aja orang-orang di kantor ga pada nyariin Mas”
Beberapa hari kemudian setelah libur Lebaran usai, disuatu kantor diperkantoran daerah Sudiman Jakarta.
“Yanto…..Yanto....,eh Lusi kamu liat Yanto ga? Aku laper nih, mau nyuruh beli makan”
“Ya..mba, Yanto kan masih pulang kampung, suruh beliin OB yang lain saja”
Dedicated to Office Boy. Bayangkan kantor tanpa office boy….
10 August, 2009
Sebuah rencana untuk Rockin'Land
“Sialan lo, gw bukan ngelamun, ini gue lagi mikir kenapa program gue ga jalan, uh gara-gara elo buyar deh”
“Hehehe, maaf Ko. Eh Eko gue lagi bete nih ama Geena”
“Kenapa lagi Li? Gara-gara dia lebih banyak dikasih kerjaan ama Bos elo lagi? Uda deh ambil positifnya aja, elo jadi ga repot kan, bisa nyantai-nyantai, bisa sering-sering ke meja gue, iya kan”
“Bukan gitu Ko…..gara-gara dia sibuk banget kan gue jadi ga ada temen makan, dia makannya jadi ga jelas, kadang makan, kadang ga, terus kalo makan dia seringnya ama anak-anak marketing, nah gue kan jadi makan sendirian”
“Ya ampuuun Li, elo gitu aja bete, trus elo mau brantem juga ama dia? Mau kaya Ana yang ribut ama Elly? Iya gitu???”
Gue heran melihat keempat cewe-cewe ini. Gue kenal mereka uda lama, sejak gue masuk ke kantor ini. Awalnya gw kenal dengan Lili, karena kita semakin sering jalan bareng akhirnya gue dikenalin juga dengan “genk”nya. Geena (yang kebetulan 1 kantor), Ana dan Elly. Mereka berempat sudah bersahabat dari masa kuliah. Gue seneng aja main dengan mereka, karena mereka kalau sudah berkumpul serasa dunia ini sepi banget yang harus di bikin ramai oleh suara, celotehan dan tingkah laku mereka yang norak tapi seru.
Tapi akhir-akhir ini setelah 3 tahun gue main dengan mereka, sepertinya kekompakan mereka mulai runtuh. Emang sih biasanya ada juga mereka saling bertengkar, itu pun paling hanya sehari dua hari. Tapi kali ini beda, sudah sebulan lebih satu persatu dari mereka mulai sama sekali tidak teguran. Di mulai dari Ana yang ribut dengan Elly gara-gara berebutan cowo. Ana sampai ga mau ngumpul kalau ada Elly. Gue, Lili dan Geena sudah bersusah payah mendamaikan tapi tetep saja mereka ga mau berdamai. Sekarang ditambah Lili ribut dengan Geena karena saingan dalam pekerjaan. Masa cuma masalah seperti ini persahabatan jadi hancur?
“Ya….engga sih Ko”
“Gue denger Geena mau nonton Rockin’Land ya? Elo ga ikutan nonton?”
“Ah engga Ko, dia mau nonton hari minggu ama ‘temen-temennya’ Ko” jawabnya sambil memperagakan tanda kutib dengan kedua tangannya dan memberikan penekanan saat menyebut temen-temennya.
“Nah elo kan temennya juga kan Li?” tanya gue pura-pura heran sambil tersenyum-senyum.
“Maksud gue dia pergi ama anak-anak marketing Ko…” jawab Lili dengan sebel.
“Sebenernya gue mau ngajak elo asma Geena nonton Rockin’Land, biar adil aja, dulu kan gue nonton Java Jazz bareng Ana Elly aja gara-gara elo berdua lagi sibuk banget ama kerjaan. Sekarang mumpung Ana ama Elly ga tegoran lagi, kita aja bertiga yang nonton, biar dia berdua iri heheheh”
“Ga tau deh Ko, gw lagi males ama Geena”
Beberapa hari kemudian saat gue lagi di Plaza Semanggi, gue denger ada yang manggil nama gue.
“Eko…Ko..”
“Hoi Na, ama siapa lo?”
“Sendirian, elo?”
“Sama, gue bis dari Gramed nih” jawab gue sambil nunjukin buku yang gue baru beli.
“Eh Na elo ga mau nonton Rockin’Land?”
“Ga tau nih Ko, elo pasti mau nonton, ya kan?”
“Hehehe, yuk nonton yu, Geena katanya juga mau nonton tuh”
“Iya sih, tapi katanya dia mau nonton hari Minggu bareng-bareng ‘temen-temennya’ “
Halah, nada yang sama ditunjukin Ana sama seperti Lili. Lili pasti uda cerita ke Ana deh.
“Ya uda kalau gitu kita nonton bertiga aja. Elo, gue ama Lili. Kita nonton yang hari sabtu aja. Ada Mr. Big tuh. Lili pasti mau deh, kan dia punya CD original the bestnya”
“Eh iya ya, wah boleh juga tuh. Gue juga lumayan suka tuh Mr. Big. Yuk yuk…bener ya Ko?”
“Iya, elo bilang gih ke Lili, nanti gue juga ngajak Lili”
“Sip”
Keesokan harinya, gue ketemu Geena pas mau makan siang.
“Eh Ko, elo mau nonton Rockin’Land ya bareng Lili ama Ana?”
Mmmm…pasti Ana sudah bilang ke Geena nih. “Iya Gee, elo mau ikut ga? Kita sih mau nonton Mr. Big. Ikut aja yu biar seru, uda lama kan kita ga jalan bareng lagi”
“Lah Elly gimana? Elo tau kan Ana ama Elly ga mungkin disatuin lagi?”
“Iya juga sih, tapi yang penting elo mau ikut ga?”
“Nanti gue pikirin dulu deh”
Sore ya, seperti biasa Lili datang ke meja gue.
“Eko, elo uda ngomong ke Geena ya kalau kita mau nonton Rockin Land?”
“Iya, dia uda tau duluan juga sih”
“Iya, Ana semalam ngomog ke dia, eh tau ga? Tadi Geena bilang ke gue kalau dia mau nonton ama kita hari Sabtu nanti”
“Wah asik dong, rame-rame”
Gue langsung telpon Ana.
“Halo”
“Halo Ko, eh Geena mau ikut bareng kita tuh”
“Iya, ini ada Lili, dia baru juga bilang gitu”
“Wah asik nih, rame-rame ngumpul, jalan-jalan, pasti seru banget”
“Pastinya, elo banyangin aja nanti bis nontonnya kita jalan-jalan di pantai Ancol malam-malam. Terus difoto deh, keren tuh”
“Eh iya, eh nanti suruh Lili bawa kamerannya jadi kita bisa difoto-fot…..” ada nada turun diakhirnya kalimatnya
“Ko gue ga enak nanti ama Elly, pasti dia nanti berasa gimana lagi lihat foto-foto kita nanti di FB”
“Ya uda ajak aja gih”
“Tapi kan…..tau ah Ko, Uda dulu ya”
Besoknya Geena dan Lili ke meja gue sambil senyum-senyum.
“Ada apa nih? Dateng-dateng senyum-senyum?”
“Tau ga Ko? Semalam akhirnya Ana nelpon Elly dan ngajak dia ke Rockin’Land”
“Eh serius lo???”
“Beneran Ko”
Langsung aja gue telp Ana buat konfermasinya.
“Iya Ko, gue ngajak dia, ga enak juga sih nanti kalau dia ngerasa ga kita ajak.”
“Hehehe, jadi pada ngumpul lagi nih cewe-cewe bawel yang norak??”
“Iya…ya uda besok gimana jadinya???”
“Ketemuan aja langsung di Ancol, elo kan pasti berempat ketemuan dia PIM seperti biasanya kan?”
“Tau tu Lili. Kan dia yang bawa mobil”
“Ya uda Na, nanti dikabar-kabarin lagi” Telpon gue matiin dan gue ngelihat Lili dan Geena sedang asik ngerencanain buat besok.
“So…besok gimana?”
“Ya uda, besok gue bis nyamper Geena, gue ketemuan ama Ana dan Elly di PIM. Elo gimana Ko?”
“Ya uda gue langsung aja ke sana, kan rumah gue juga deket, masa gue mesti ke PIM juga, bolak balik dong gue”
“Beneran ya Ko, awas lo kalau besok elo ga muncul” ancam Geena sambil mangancungkan kepalannya.
“Sip” kata gue sambil senyum-senyum.
Sabtu sore di PIM akhirnya keempat cewe-cewe bawel itu ketemuan kembali setelah sekian lama terpecah. Suara canda tawa pun memenuhi ruang mobil Lili selama perjalanan ke Ancol. Sesampainya disana naluri ke narsisan mereka pun muncul. Langsung foto sana foto sini. Mereka pun sibuk mencari panggung mana yang akan ditonton. Sambil sesekali menggoda cowo-cowo yang melihat mereka. Dan tanpa disadari kalau mereka hanya menonton berempat saja. Yup. Berempat saja tanpa gue. Gue sendiri emang dari awal tidak ada rencana untuk nonton itu. Gue cuma mau ngumpulin mereka aja. Dari pada gue bayar mahal hanya untuk nonton beberapa lagu aja yg gue tau mending gue nongkrong aja bareng temen gue sambil maen gitar dan nyanyi-nyanyin sendiri.
Rock for peeeeaaaaaaaace
14 July, 2009
truly madly deeply
“Iya Kek”
‘Tuh Ma, lihat tuh cucu kita, semakin hari semakin mirip saja ama kamu’
‘Ah Papa bisa aja, emangnya Papa pernah liat Mama waktu kecil? Kan kita pertama kali ketemu pas kuliah dulu’
‘Mama masih ingat saja’
‘Ingat dong Pa, kan Papa dulu yang jadi sok jagoan, yang sok ngelindungin mahasiswi baru yang baru masuk kuliah’
‘Hehe, tapi kan memang terbukti, sampai sekarang Papa masih melindung mahasiswi baru itu’
‘Ah Papa, uda ah, nanti kedengaran sama yang lain kan ga enak…..tuh liat cucumu itu, berantakan, persis kaya kamu, ga pernah mau rapi’
‘Namanya juga anak-anak Ma, biarin aja lah, tapi Ma. Kalau Papa lihat-lihat, Ade itu emang mirip banget sama Mama, cara senyumnya, matanya, mirip mama, ga salah kalau dia dikasih nama sama kaya kamu’
Sementara itu di dalam rumah.
‘Loh kok obat Papa masih di meja, pasti belum diminum, Papa itu susah banget sih disuruh minum obat’ keluhku dalam hati, ‘Duh dimana lagi sekarang Papa’
“ Eh..Ade, kamu liat Kakek ga?”
“Ada tuh Ma lagi di teras”
“Kamu jangan main-main lagi ya, sebentar lagi kita pergi, Mama mau ke teras dulu”
Sesampai di teras.
“Pa…kok sendirian disini, ini minum obatnya terus kita pergi ke kuburan Mama”
Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa adanya stimulus pada reseptor panca indera yang nyata diluar dirinya, dapat disebabkan karena kematian orang yang sangat dicintai.
08 June, 2009
Jatuh...
"One….two…three….jump!!!"
Aku melompat keluar dari pesawat dan seketika itu pula lah aku merasakan bebas…lepas…damai. Pada ketinggian ini lah aku merasakan kedekatanku padaNya. Kedekatanku kepada alam setelah hidup. Kedekatanku kepada almarhumah Mamaku.
Aku sangat berterimakasih kepada Om Suryo, adik Papaku, yang telah mengenalkanku kepada olahraga terjun payung 2 tahun yang lalu, enam bulan setelah Mama meninggal. Akupun menjadi pecandu oleh raga ekstrim ini hanya karena di atas inilah aku dapat melepaskan kerinduan kepada Mama.
Bipbip….bipbip….
Suara alarm ketinggian membuyarkan lamunanku menandakan sudah diketinggian 700 m/dpl . Saatnya aku harus melepaskan payung parasutku.
Hup
"Ya Tuhan…."
Teriakku ketika sadar payungku tidak terbuka dan terlepas dari backpackku. Darahku mendesir cepat. Rasa panik mulai merambat. Aku meluncur cepat. Inikah maksud dari pertanda larangan Bapakku. Dari awal aku menekuni olah raga ini, Papa tidak pernah melarang. Tapi tadi pagi saat aku pamit, entah mengapa Papa sepertinya melarangku pergi.
‘Kamu harus lompat sekarang? Tidak bisa ditunda?’
‘Ah Papa ini kaya ga tau saja, mana mungkin aku bisa menunda-nunda atau membatalkan secara sepihak. Ga enaklah ama anggota yg lainnya’
‘Tapi Mal…’
‘Papa kenapa sih, kan Kemal bukan pertama kali mau loncat, ini loncatan yang ke 25 Pa. Teman-teman juga uda nyiapin buat ngerayainnya. Kemal janji deh, Kemal selalu mengecek berkali-kali payung Kemal’
"Kemaaal…….buka payung cadangnya" teriak Lintang, seniorku, membuyarkan lamunanku. Seketika itu pula aku menarik tali pembuka payung cadanganku.
Setelah payung cadanganku terlepas dari backpack, badanku tertarik keatas dengan posisi terlentang dan tiba-tiba badanku terputar. Segera kelihat ke payung parasutku……..ya Tuhan…..payung cadanganku tidak berkembang. Tali sebelah kiri melintir menyebabkan aku terputar-putar.
Aku hanya dapat melihat langit diatasku. Berputar-putar. Biru. Lalu samar-samar kulihat rupa Mama. Semakin lama semakin jelas. Mama tersenyum manis kepadaku dan memangil namaku.
‘Kemal…’
Tanpa sadar aku berkata, ’Mama, Kemal datang Ma’
Aku hanya merasakan keheningan......... kesenyapan.......... dan semuanya menjadi gelap gulita. Hanya suara angin dengan kecepatan 200km/jam saja yang terdengar. Semua bergerak lambat. Dan tiba-tiba….

Gubrak.
Aku terhempas dilantai tepat disebelah ranjangku.
Picture
Model by : myself
Photograph by : -je-
Graphic design by : -heftymonk-
Happy birthday Mom
02 June, 2009
Berbagi

“Mau pesan apa?”
“Hot chocolate with mint, kamu mau minum apa?”
“Ice coffee mochacino deh”
“Ada lagi? Mau nyoba cakenya?”
“Blueberry cheesecakenya enak kayanya”
“Mmmm…..”
“Cobain yu mas, beli 1 aja nanti makan berdua”
“Ya uda deh, mba pesen itu 1 ya”
“Saya ulangnya, 1 Hot chocolate with mint, 1 ice coffee mochacino dan 1 blueberry cheesecake, itu saja?”
“Yup”
“Ditunggu sebentar ya”
“Gimana tadi fitting bajunya Fen?”
“Ya..gitu deh Mas, bajunya emang harus ngepas body biar bagus, jadi ya harus jaga nih, biar nanti pas resepsinya bajunya ga kesempitan banget”
“hehehe, uda tau gitu kamu masih aja mesen blueberry cheesecake, nanti yang ada kamu jadi ndut loh”
“Ah Mas, kan aku juga sudah lama ga makan semuanya, nanti juga kan dibagi berdua ama Mas”
“Iya deh tp biar endut kamu tetep cantik kok kalau engga, mana mungkin Mas mau nikah dengan kamu”
“Ah gombal, uda mau nikah masih aja ngegombal, eh Mas sendiri tuh jangan lupa makan obat n vitmanim, uda mau sebulan lagi loh acaranya, jangan sampe flunya ga sembuh ya”
“Iya Fen, besok Senin Mas mau kedokter biar cepet sembuh”
“Nih tisu, dilap hidungnya Mas, uda meler-meler gitu tuh ingusnya, masa kaya anak kecil gitu sih”
“Iya nih, keluar melulu”
Tak lama pramusaji tadi pun datang membawa pesanan.
“Hot chocolate with mint?”
“Saya Mba”
“Ini ice coffee mochacinonya Mba dan ini blueberry cheesecakenya, selamat menikmati”
“Makasi Mba”
“MM…….blueberry cheesecakenya menggoda nih” uajr Fenny sambil menyuapkan blueberry cheesecakenya.
“Enak?” Tanyaku sambil melihat potongan blueberry itu masuk kedalam mulut munggilnya.
“Enak banget Mas” sambil mengunyah poongan cake itu.
“Lembut dan manisnya pas banget, enak deh. Nih…”kata Fenny sambil menyodorkan piring berisi cake itu.
“Kamu makan aja dulu, nanti sisanya baru Mas makan, Mas kan lagi flu, kasihan kalau kamu nanti ketularan”
Lalu perbincangan kami pun berlanjut hangat sambil, disela-sela perbincangan itu pula lah blueberry cheesecake itupun sepotong demi sepotong masuk ke dalam mulut mungil itu. Aku tetap hanya bisa memandangi suapan demi suapan itu seraya mencoba membayangkan nikmatnya cake lembut yang manis itu. Dan menanti dengan sabar giliranku untuk mencicipinya.
Tak terasa sudah hampir sejam kamu mengobrol. Tiba-tiba hp Fenny berbunyi. Ternyata dari ibunya.
“Mas, kita disuruh Ibu mampir ke rumah Tante Tuti sekarang, ngambil titipan sample ucapan terimakasih”
“Ayo kalau gitu” jawabku seraya menyuruput sisa minumanku sambil menantap sisa potongan kecil blueberry cheesecake itu.
“Cakenya ga mau dimakan lagi?”
“Eh iya…” dan……hup…….potongan kecil terakhir itupun tanpa ragu dimakannya lagi.
Dan akupun menelan ludah.
Cinta…tak selamanya harus berbagi
21 May, 2009
Ice cream
“Fer, Ferry…sini nak”“Iya Ma”
“Kamu diajak ama Tante Tita ke Pasar Baru, kamu mau ikut?”
“Iya Tante?”
“Iya, Yuk ikut Tante”
“Asikkk….mau dong”
“Ya sudah sana, rapiin mainan kmu terus ganti baju ya”
“Iya Ma”
Tak berapa lama akupun sudah rapi dan siap untuk jalan-jalan.
“Kamu jangan nakal ya, jangan minta beli-beli ya Fer. Hati-hati ya Ta”
“Sip Kak, ga usah kuatir deh, Ferry pasti gue pegangin terus. Ayo Fer”
“Tante emang mau beli apa?” tanyaku sesampai di Pasar Baru.
“Tante mau nyari sepatu nih” ujar Tante Tita sambil memasuki salah satu toko sepatu. Setelah melihat-lihat dan mencoba salah satu sepatu Tante Tita pun mengajakku pindah ketoko sebelah. Akhiranya kami pun keluar masuk toko sepatu.
“Tante nyari sepatu yang kaya apa sih”
“Sepatu buat kerja, kan baru keterima kerja. Lusa Tante mulai kerja. Kerjaan pertama Tante”
“Oooo..”
“Kenapa? Kamu capek”
“Ah engga Tante” jawabku sambil duduk dipojok toko sambil melihat Tanteku mencoba sepatu. ‘Duh lama banget ya’ gerutuku dalam hati. Tanti Tita melihatku dan aku mencoba untuk tersenyum.
“Yu kita cari ke toko sebelah. Disini engga ada ukuran Tante” ajak Tante Tita sambil menggandengku keluar toko. Disamping toko itu aku melihat ada orang yang sedang membeli es krim. Aku melihatnya sambil berpikir ‘enak banget es krimnya’. Tante Tita tetap menggandengku melewati penjual es krim itu dan aku melihat pembeli tadi menjilatin es krimnya. Aku cuma memlihat sambil menelan ludahku. Ketika hendak memasukin toko, aku tetap melihat ke penjual es krim tadi.
“Kamu mau es krim?” tanya Tante Tita ketika melihat aku masih melihat ke penjual es krim itu.
“Ah engga kok Tan”
Ketika Tante Tita sedang asik melihat-lihat sepatu dan mencobanya, iseng-iseng aku kedepan toko dan mengintip ke penjual es krim. Ada seorang ibu sedang membelikan es krim buat anaknya. Air liurku mulai keluar. Aku buru-buru masuk lagi sebelum aku bertambah ngiler. Aku pun melihat-lihat sepatu anak-anak agar tidak terpikir lezatnya es krim itu.
Ternyata Tante Tita menemukan sepatu yang diinginkannya. Dan dia pun membelinya. Setelah mendapatkan sepatunya Tante Tita menggandengku keluar toko dengan senyum puas.
“Yu kita pulang, Tante sudah dapet nih sepatunya”
Ketika keluar toko aku melihat penjual es krim itu sedang menuangkan es krim ke cone. ‘Wah es krim coklat’ ujarku dalam hati. Tante Tita tetap menggandengku melewati penjual es krimnya. Tanpa aku sadari aku masih melihat kepenjual es krim itu meski sudah cukup jauh kami melewatinya.
“Kamu mau beli es krim itu?” tanya Tante Tita lagi.
Aku menggeleng dan berkata, “Yu pulang Tan”.
Sesampai dirumah Mama menyambutku.
“Hay Fer, gimana tadi jalan-jalannya?”
“Ya..gitu deh Ma, Tante keluar masuk toko melulu, untung dapat juga sepatunya”
“Terus, kamu ga bandel kan?”
“Enggak dong Ma, eh Ma tadi disana ada yang jual es krim, enak deh, apa lagi ada es krim coklatnya”
Mama tersenyum manis, “Enak dong kamu makan es krim coklat, kan itu kesukaan kamu”
“Engga kok Ma”
“Loh kenapa? Tante Tita engga beliin kamu?”
“Ya engga Ma, kan aku ga minta beliin”
Tiba-tiba Mama langsung berdiri dan memanggil Tante Tita dengan nada marah.
Aku kaget dan berpikir, ‘Waduh…..aku salah apa ya sampai Mama marah?’
Ingat-ingat pesan Mama
21 April, 2009
Friend
“Gw bukannya cengeng, cuma gw masih berasa bersalah aja ama Viry”
“Nah elonya aja bodoh, selingkuh ama mantan kok bisa sampe kepergok”
“Ya…gimana dong, kalau gw tau Viry mau kesana…..ya gw pasti ga ngajak Agnes ke sana”
“Don, Agnes itu mantan elo, wajarlah kalau Viry marah-marah, elonya juga sih bodoh, uda 2 minggu tugas di Makasar, pas pulang bukannya ke tempat Viry malah diem2 langsung ngajak dinner Agnes, mana di the View pula, resto favoritnya Viry, tempat elo jadian dulu dan wajar juga lah kalau dia jadi mikir kalau selama ini elo bukan ke Makasar atau dinas ke luar kota tapi asik asoi ama Agnes”
“Itulah, gw nyesel banget, kalau aja gw bisa mundurin waktu, gw ga akan ngajak makan Agnes kesana, gw bener-bener kaget ngeliat Viry pas mergokin gw, mukanya langsung pucet dan hampir pingsan”
“Trus mau elo gimana?”
“Ya…..”
“Uda deh Ron, mending elo terusin hidup elo aja deh, elo juga pernah bilang kalau elo emang masih sayang ama Agnes, ya uda elo lanjutin aja ama Agnes lagi, ajak balik lagi aja”
“Trus Viry gimana dong?”
“Lah ya uda ga usa elo pikirin lagi, toh elo ama dia uda putus sebulan yang lalu”
“Gw masih ga enak sama dia”
“Elo harusnya mikir gitu sebelum elo selingkuh ama Agnes”
“Gw nyesel Don, nanti siapa yang ngejagain Viry, elo tau sendiri dia itu manja banget, semuanya mesti diperhatiin”
“Uda deh, gw yakin Viry sekarang uda baik kok, dia uda seneng”
“Elo tau dari mana?”
“Eh…yaaa…..kira2 aja, intinya elo ga usah mikirin dia lagi deh, elo yakinin aja ke diri elo kalau dia uda seneng, uda bahagia, jadi elo ga usa ganggu dia n elo lanjutin aja kehidupan elo ya”
Setelah 2 jam gw ngedengerin curhatan sobat gw ini, akhirnya gw bisa pergi jemput cw yang diem-diem uda resmi gw pacarin selama 2 bulan. Sesampainya dirumahnya, gw disambut dengan senyumannya yang cantik dan sebuah kecupan manis dari dia.
“Hai Yang”
“Hai Mas Don, gimana tadi Rony? Uda kamu bilang ke dia tentang hubungan kita ini?”
“Belum lah Vir, gimana aku mau ngasih tau kalau dia masih aja sibuk curhat gara-gara kamu putusin”
That’s what friends are for…?
03 April, 2009
Hello..?
“Iya…hello?”
“Eh elo uda tidur?”
“Belom..”
“Sialaannn…gw lagi bete nih”
“Kenapa?”
“Gw abis dikerjaian ama cw…kurang ajar!!!”
“Kok bisa?”
“Iya…gw baru kenal ama ini cw 2-3 minggu….dia itu cw tipe gw bgt”
“Asik dong…”
“Kemaren kan gw ketemuan ama dia, pas lg asik2 ngobrol eeee…..tau-tau dia blg, ‘bentar ya, bentaar aja, gw mau ketemuan ama org dl’…lah kan gw bingung, ini org gimana toh?”
“Gimana apanya?”
“Bukan gitu…emang sih kmrn pas ketemuan dia dr awal dia emang rada repot ama sms2an gitu, tp gw mah cuek aja, masa iya gw larang…tp ya itu…gw ga suka aja ama caranya dia yg tau2 mau ketemuan ama org itu padahal kita uda janjian mau ketemuan…ya uda jgn bikin janji ama yg lain dong!”
“Siapa tau emang kebetulan mendadak”
“Ga mungkin mendadak. Sebenernya sih gpp kl dia mau ketemu ama org itu, tp ya…knp jg dia mau ketemuan sendirian…knp ga ngajak ketempat kita aja atau kita ketempat dia, knp jg mesti cuma dia aja, kesannya kan ada yg mau ditutupi”
“Dia ga enak kali ama org itu”
“Ah ga lah…emang dianya aja yg mau ketemu sendirian”
“Atau dia yg malu ngenalin elo ama temennya”
“Bukan gitu, pas uda gw tanya2 trus dia blg kl org itu temenya, org bule, gw tau mantannya dia bule jg”
“Trus…”
“Jangan2 dia emang sukanya ama bule aja…blablabla…blablabla….”
“Trus…”
“Blablabla…..blablabla……blablabla….”
“Bentar dulu…elo pacara ama itu cw”
“Ga”
“Lah trus kenapa jg elo cemburu?”
“Mmm…gw ga cemburu kok”
“Lah itu apa namanya kl ga cemburu, elo suka ya ama dia?”
“Mmm.. ..suka sih tp…”
“Elo uda blg blm ama dia?”
“Harusnya dia jg uda tau...”
“Lah namanya jg cw, cw kan perlu diucapin, lagian kan blm tentu jg dia suka ama elo”
“Ah…keliatannya dia jg suka ama gw kok, gayanya dia nunjukin kok n buktinya dia pernah blg kl dia nungguin gw ngubungin dia trus dia pernah ngasih cd lagu ke gw”
“Biasa kale kl org ngasih cd”
“Tapi kan…”
“Elo suka ga ama dia?”
“Mmmm…..dia emang tipe gw bgt…”
“Suka ga?”
“Au ah”
“Lah malah bingung”
“Karena…gw…..ah rese tuh cw!!”
Klik…tuut…(suara telp ditutup, pukul 00.07)
Yang telpon tadi siapa ya??? Orang yang aneh
Boys and girls….do not talk with stranger
31 March, 2009
Uti

To many emotional connections to this one…



