08 June, 2009

Jatuh...

Di pesawat Fokker 27 di ketinggian 1000 m/dpl (meter/diataspermukaan laut).

"One….two…three….jump!!!"

Aku melompat keluar dari pesawat dan seketika itu pula lah aku merasakan bebas…lepas…damai. Pada ketinggian ini lah aku merasakan kedekatanku padaNya. Kedekatanku kepada alam setelah hidup. Kedekatanku kepada almarhumah Mamaku.

Aku sangat berterimakasih kepada Om Suryo, adik Papaku, yang telah mengenalkanku kepada olahraga terjun payung 2 tahun yang lalu, enam bulan setelah Mama meninggal. Akupun menjadi pecandu oleh raga ekstrim ini hanya karena di atas inilah aku dapat melepaskan kerinduan kepada Mama.

Bipbip….bipbip….

Suara alarm ketinggian membuyarkan lamunanku menandakan sudah diketinggian 700 m/dpl . Saatnya aku harus melepaskan payung parasutku.

Hup

"Ya Tuhan…."

Teriakku ketika sadar payungku tidak terbuka dan terlepas dari backpackku. Darahku mendesir cepat. Rasa panik mulai merambat. Aku meluncur cepat. Inikah maksud dari pertanda larangan Bapakku. Dari awal aku menekuni olah raga ini, Papa tidak pernah melarang. Tapi tadi pagi saat aku pamit, entah mengapa Papa sepertinya melarangku pergi.

‘Kamu harus lompat sekarang? Tidak bisa ditunda?’

‘Ah Papa ini kaya ga tau saja, mana mungkin aku bisa menunda-nunda atau membatalkan secara sepihak. Ga enaklah ama anggota yg lainnya’

‘Tapi Mal…’

‘Papa kenapa sih, kan Kemal bukan pertama kali mau loncat, ini loncatan yang ke 25 Pa. Teman-teman juga uda nyiapin buat ngerayainnya. Kemal janji deh, Kemal selalu mengecek berkali-kali payung Kemal’

"Kemaaal…….buka payung cadangnya" teriak Lintang, seniorku, membuyarkan lamunanku. Seketika itu pula aku menarik tali pembuka payung cadanganku.

Setelah payung cadanganku terlepas dari backpack, badanku tertarik keatas dengan posisi terlentang dan tiba-tiba badanku terputar. Segera kelihat ke payung parasutku……..ya Tuhan…..payung cadanganku tidak berkembang. Tali sebelah kiri melintir menyebabkan aku terputar-putar.

Aku hanya dapat melihat langit diatasku. Berputar-putar. Biru. Lalu samar-samar kulihat rupa Mama. Semakin lama semakin jelas. Mama tersenyum manis kepadaku dan memangil namaku.

‘Kemal…’

Tanpa sadar aku berkata, ’Mama, Kemal datang Ma’

Aku hanya merasakan keheningan......... kesenyapan.......... dan semuanya menjadi gelap gulita. Hanya suara angin dengan kecepatan 200km/jam saja yang terdengar. Semua bergerak lambat. Dan tiba-tiba….


Gubrak.

Aku terhempas dilantai tepat disebelah ranjangku.




Picture
Model by : myself
Photograph by : -je-
Graphic design by : -heftymonk-
Happy birthday Mom

5 comments:

Je said...

nekad yeeeeeee. LOL
but i do love the layout and the graphic. free falling, xort? free falling aja masih sempet nulis cerita. LOL.
cool!

Xian Iwan Santoso said...

wahh.. menegangkan....

cool.

Anonymous said...

emmm suasana hati di saat detik2 terakhir emang selalu flashback teringat orang2 tercinta..... kayaknya ini yg gw rasaain di cerita ini walau endingnya :)

schultz said...

Aq suka fotonya.. kreatif..

Sang Cerpenis bercerita said...

nice..fotonya juga antik...