27 December, 2009

Ayo Ke Museum

Beberapa bulan yg lalu Starbucks Coffee Indonesia ngadain program ‘Ayo Ke Museum’ dengan cara bagi2 tiket masuk gratis ke beberapa museum yang ada di Jakarta. Museum-museum yang ikut berpartisipasi adalah Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Purna Bhakti Pertiwi. Karena tau gw tertarik mau ikutan, temen gw ngasih tiketnya. Tapi karena beberapa hal gw baru sempet ke museum2 itu Sabtu kemarin.



Jadilah Sabtu kemaren pagi gw uda dibangunin ama temen gw buat berangkat ke museum. Maklum aja kalau hari Sabtu, museum2 itu hanya buka dari jam 9 sampai jam 12 saja. Dengan mandi secepatnya, jemput temen gw dan sarapan ketan susu di kemayoran, gw pun siap menunju daerah Kota Tua Jakarta. Empat dari lima museum yang ada di daftar, berada di daerah Kota Tua.

Tujuan pertama adalah Museum Fatahillah. Museum ini terkenal dengan bentuk bangunan tempoe doeloe. Semua lantai dan tangganya terbuat dari kayu, dengan pintu dan jendela yang besar2. Masuk ke dalam museum ini mengingatkan gw ke rumah usang di kampung gw nun jauh di pelosok sana (jadi kangen gw, uda lama ga pulang kampung). Aura bangunan tua disini terlihat jelas dari beberapa kusen pintu yang sudah keropos. Tapi kesan itu malah menjadi daya tarik tersendiri. Ornamen2 yang ada juga sudah keliatan kusam termakan waktu. Dibagian ruang tahanan bawah tanahnya yg dibiarkan gelap selain mengeluarkan bau lembab yang dingin tapi juga bau pesing (kurang ajar nih yg pipis disini). Di halaman belakang terdapat pohon besar yang gw jamin usianya jaaauuuhhhh lebih tua dari para pembaca blog ini. Yang gw salut dari museum ini, ternyata menyediakan free hotspot dengan kecepatan yang cukup memuaskan.



Puas dari museum Fatahilla, gw pergi ke Museum Wayang. Museum ini terletak 300 meter kearah timur laut dari museum Fatahilla (kalau ga jelas, tanya aja ama petugasnya pasti dikasih tau deh). Museum Wayang ini dari luarnya memang masih berupa gedung lama tapi didalamnya ga keliatan bentuk bangunan lamanya, apalagi disini full AC. Selain karena sebagian museum ini lg di renovasi, bentuk bangunan yg monoton bikin gw males berlama2 disini.


Dari Museum Wayang, gw pun pergi ke arah Pelabuhan Sunda Kelapa menuju Museum Bahari. Ga sampe 5 km dari pusat Kota Tua. Museum ini sebenernya terbagi menjadi dua, yaitu Museum Baharinya itu sendiri dan Menara Pelabuhan Sunda Kelapa yang bersebrangan. Museum ini jauh lebih sepi dari kedua museum yg sebelumnya. Gedungnya sudah benar2 menunjukan ketuaannya. Selain cat dinding yang terkelupas, aroma udara berdebu di ruangannya membuat suasana menjadi bertambah kusam. Gedung utama yang terdiri dari tiga lantai ini di sanggah oleh kayu2 besar yg kokoh. Kusen2 yang ada tidak menunjukan kekeroposannya (rupanya rayap ga doyan idup disini). Suasana yang sepi, tenang dan remang terkadang menimbulkan perasaan menjadi aneh. Tapi disitulah seninya dari museum ini.


Sori gw ga ngebahas isi dari museum2 ini karena memang tujuan utama gw ke museum ini adalah foto2.heheheh.silahkan klik gambar2 yang ada untuk ngeliat foto2 gw yang lainnya.

7 comments:

Aulawi Ahmad said...

seneng foto2 bangunan antik ya bro, aku juga sukaaaa banget sama aura dan keeleganan bangunan tua..sampai2 aku sedih kalau ada bangunan tua yang tidak terawat, seandainya ada duit banyak akan kubeli semuanya hehehehe

fanny said...

nah, selain film, kamu juga pecinta museum ya. ketan susu di kemayoran? kayak apa tuh?

A...D... said...

kenapa museum bukanya cm sampe jam segitu?kalo sampe malem yg jaga tiket ama pemandunya udah beda dunianya kayanya...:)

aguessty said...

ketan susu kemayoran kayaknya enak tuh, fotonya yg gw suka yang lagi di jendela (hening ) aja...........:)

exort said...

@ Aulawi : yang paling menyebalkan kalau ngeliat coretan2 usil di bangunan tua itu, benar2 merusak keindahan

@ Fanny : pencinta segala yang indah fan, nanti kapan2 gw posting tentang ketan susunya deh

@ A D : siang aja sepi apalgi malam...

@ Agus : tempat fotonya keren, tunggu aja tentang ketan susunya ya

an4k`SinGKonG said...

hehehehe...bagus banget bang,bisa kembali mengenal sejrah tuh
duuuchh jadi pingin ke museum yang di semrang nie...hihiihihi

Sang Cerpenis bercerita said...

ketan susunya udah diposting belum?